Hemat Air Sebagai Upaya Penanganan Krisis Air

Krisis air di Pulau Jawa diperkirakan akan terjadi tahun 2015. Hal tersebut dikarenakan daya tampung air yang kurang dan kecenderungan masyarakat masih menggunakan air tanah secara berlebih. Krisis air tersebut akan dihadapi baik terhadap kualitas maupun kuantitas. Direktur Pengembangan Air Minum, Ditjen Cipta Karya Danni Sutjiono mengatakan hal tersebut Kamis (21/6) di Studio TV One, Jakarta.

"Hingga kini, sekitar 62% warga Jakarta dapat menikmati pelayanan air perpipaan. Untuk pemerataan layanan jaringan air, diharapkan masyarakat di dekat instalasi air melakukan penghematan penggunaan air. Sehingga masyarakat di hilir dapat ikut menikmati air bersih," ujar Dani.

Disebutkan Dani, penyebab krisis air antara lain pencemaran air, deforesasi, dan pemanfaatan air secara berlebih baik air permukaan maupun air tanah. Hal-hal tersebut menyebabkan krisis air baik secara kualitas maupun kuantitas. Untuk menangani krisis air, Kementerian PU telah bekerjasama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan instansi terkait. Program dan kegiatan seperti Hemat Air telah dilaksanakan. Hal penting yang juga diperlukan dalam mengatasi masalah air adalah pemahaman dan partisipasi masyarakat dalam pemanfaatan dan menjaga kelestarian air bersih.

Untuk menjaga ketersediaan air permukaan, PU telah membangun waduk dan bendungan. Di Pulau Jawa antara lain Waduk Jatiluhur, Waduk Jatigede dan Waduk Karian. Distribusi dilakukan melalui sistem perpipaan yang diharapkan dapat mencapai masyarakat hingga pelosok desa. (ind)

Sumber:  pu.go.id