Dinas PU Pengairan Lakukan Berbagai Terobosan

Dukung Sektor Pertanian, Dinas PU Pengairan Lakukan Berbagai Terobosan Untuk mendukung sektor pertanian di wilayah Banyuwangi, Pemkab Banyuwangi terus melakukan berbagai terobosan. Diantaranya, membangun irigasi tersier atau irigasi perdesaan di 500 titik yang tersebar di 24 kecamatan pada tahun 2012 ini. Pembangunan irigasi ini diharapkan dapat memperbaiki irigasi sederhana (galengan, red) yang dibangun warga secara swadaya menjadi Jaringan Irigasi Teknis. Tahun 2012 Jaringan Irigasi tersier yang diperbaiki sebanyak 500 titik yang tersebar di 24 kecamatan. Rehabilitasi irigasi tersier tersebut, mulai dikerjakan awal Juni lalu dengan dana Rp 15 miliar yang merupakan dana sharing dari APBD pemkab dan provinsi Jawa Timur. Irigasi tersier yang sudah dibangun pada tahun 2011 oleh Dinas PU Pengairan. Dampak dari pembangunan irigasi saat itu, produktifitas padi meningkat dari 5 ton menjadi 7 ton per hektar. Hal ini, jelas karena pengaruh retensi air (waktu tempuh air ke sawah, Red). Sebelum ada irigasi plengsengan, retensinya 10 meter / detik. “Sekarang , dengan adanya perbaikan irigasi ini, retensi air menjadi lebih cepat 0,5 – 0,7 meter / detik itu sangat menguntungkan petani. Hingga bulan September 2012, telah dibangun 355 titik jaringan irigasi tersier yang terselesaikan. Musim kemarau yang tengah melanda, menyebabkan debit air irigasi mengalami penyusutan. Menyusutnya debit air tersebut mengakibatkan ribuan lahan pertanian terancam kekurangan air yang berdampak menurunnya produktifitas beras di Banyuwangi. Jumlah air pada kondisi normal yang sebesar 79.800 meter kubik per detik, menyusut menjadi 23.500 meter kubik per detik. Dari luas areal persawahan Banyuwangi yang seluas 66.500 hektar, dibutuhkan air sekitar 88.200 meter kubik per detik. Program surplus 10 juta ton Peningkatan Produksi Beras Nasional (P2BN) yang ditargetkan pemerintah Pusat, Provinsi Jawa Timur ditarget surplus sekitar lima juta ton. Produksi beras Banyuwangi ditargetkan meningkat sekitar 57,5 persen untuk memenuhi surplus yang lima juta ton tersebut “Apabila penyusutan debit air pada kemarau panjang ini tidak disiasati, tentunya sulit bagi Banyuwangi untuk mencapai target tersebut. Dinas PU Pengairan berencana membangun 10 titik waduk kecil dan 8 bendungan. Ke- sepuluh titik waduk kecil itu, rencananya akan dibangun di enam kecamatan yakni Kalipuro, Kalibaru, Sempu, Glagah, Gambiran, Songgon, dan Purwoharjo. Sedangkan pembangunan bendungan akan dibangun di enam kecamatan yakni Srono, Siliragung, Pesanggaran, Purwoharjo, Kabat dan Tegaldlimo.“Dinas PU Pengairan telah mengajukan dana kepada Menteri Pekerjaan Umum (PU) sebesar Rp 248,6 miliar untuk mengatasi dampak kekeringan tersebut.. PU Pengairan telah melakukan langkah-langkah penghematan air dengan cara sosialisasi Rencana Tata Tanam Global (RTTG) yang sesuai dengan keadaan musim. “Sebelumnya, masyarakat memaksakan menanam tanaman yang memerlukan air banyak, padahal ketersediaan air tidak mencukupi. Pola tanam yang tepat misalnya dengan menyelang-nyeling pola tanam yaitu padi – padi – palawija seperti yang sudah dilakukan di beberapa desa di Kecamatan Kalibaru, Gambiran, Genteng dan Siliragung. Ada beberapa daerah di Banyuwangi yang saat ini mengalami kekurangan air, antara lain Kecamatan Muncar, Pesanggaran, Siliragung, Tegaldlimo, Purwoharjo, Srono, Rogojampi dn Wongsorejo. Dinas PU Pengairan melakukan langkah-langkah untuk mencukupi kekurangan air, di daerah-daerah tersebut, antara lain dengan mengadakan gilir air tingkat wilayah juru pengairan, gilir air tingkat sekunder dalam satu UPTD (Unit Pelaksana Teknis Dinas), gilir air antar UPTD dalam satu daerah irigasi dan mengadakan suplai air antar daerah irigasi antar UPTD . Selain itu juga tengah dilaksanakan pembangunan Bendung Sutrisno dari 200 hektar menjadi 400 hektar. Dengan langkah-langkah yang dilakukan tersebut diharapkan bisa meringankan kondisi pertanian kita hingga musim penghujan yang berikutnya.